Saya dengan jujur mengakui kalau dalam banyak hal ternyata saya puritan, kolot, tidak ‘njamani’, out of date. Terutama ketika saya bincang-bincang dengan orang-orang muda sekarang. Umumnya mereka energik, antusias dalam menatap masa depan, menyukai tantangan, dan punya parameter sendiri dalam mengartikan kesuksesan. Jemput bola
adalah sebuah motto yang penuh inspirasi bagi mereka. Karena itu mereka energik dan suka tantangan. Dulu orang Jawa punya pegangan hidup “alon-alon waton klakon, gremet-gremet waton slamet”. Sekarang tidak lagi. Orang Jawa sudah mendunia dan merubah pegangan hidupnya itu menjadi “Siapa cepat akan dapat”. “Waktu adalah uang” (Time is money) yang diadopsi cara berpikir orang barat adalah motivasi yang sangat kuat untuk menggapai masa depan mereka. Masa depan itu terbingkai dalam 'uang'.
Saya ketemu seseorang yang berumur empat puluhan. Bersama beberapa orang muda lain berbincang tentang kesibukan mereka. Tentu perbincangan itu tidak lepas dari apa yang sedang mereka lakukan dan apa yang sudah mereka capai. Saya suka mendengarkan pembicaraan mereka. Tetapi ternyata saya tidak dapat mengikuti derap langkah mereka. Mungkin saya tidak bisa lagi masuk dalam ‘dunia’ mereka. Karena umur saya yang sudah tidak lagi dalam masa tahapan yang sama dengan mereka, barangkali. Atau tuntutan batin yang berbeda. Perbincangan yang sungguh mengenai hal-hal yang realistis. Itulah sebabnya saya suka mendengarnya tetapi sama sekali tidak hanyut di dalamnya.
Salah satu dari mereka saya nilai mempunyai cara berpikir yang sangat dinamis. Seorang fighter. Dia selalu mencari tantangan yang berorientasi pada keberhasilan bisnis. Latar belakang dan ‘lingkungan-kini’-nya nampaknya sangat mendukung. Dia berhasil menciptakan satu ‘model-usaha’ dan melepaskannya untuk salah satu anggota keluarga agar dikembangkan. Lalu menciptakan yang lain lagi untuk keluarga yang lainnya lagi. Dengan motto ‘aku harus berguna bagi orang lain’ membuatnya benar-benar mampu malang melintang dalam berusaha. Tentu tolok ukur keberhasilannya adalah uang. Dia tidak segan-segan memberi modal dan tidak pernah mempersoalkan kegagalan yang terjadi. Sayangnya, cara yang dilakukan menurut pendapat saya telah menjurus pada mengahalalkan semua cara. Dari ceritanya sendiri cara ini nampaknya merupakan cara umum yang disepakati bersama dan berlaku dimana saja. Katakanlah, fenomena masa kini dalam berbisnis.
Ketika saya tanya, apa motif yang melatar belakangi motto-nya. Ia menjawab: ‘naluri’. Dari jawaban ini saya mulai berpikir suatu hal yang serius. Bisakah sebuah ‘naluri’ menjadi ‘motif’ dalam melakukan sesuatu? Adakah sebuah proses berpikir dalam sebuah naluri? Termasuk dalam koridor ‘kesadaran’kah naluri itu? Sayang saya bukan seorang ahli jiwa. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri secara ilmiah. Saya mencoba melacaknya dengan daya nalar yang saya miliki saja. Siapakah yang mengendalikan naluri seseorang? Kalau ‘naluri’ itu bukan bagian dari kesadaran manusia, tentu ada kekuatan lain yang berperan. Kalau naluri orang muda ini ternyata tumbuh subur dan berkembang pada tanah yang cocok untuk perilaku menghalalkan semua cara, tentu bukan sesuatu yang sepele. Bahkan mungkin berbahaya bagi yang terlibat. Karena bisa saja ia melakukan sesuatu diluar kesadarannya. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya yakin saya harus masuk dalam wilayah pengertian ‘sadar’ itu apa?
No comments:
Post a Comment